Pemesanan
Pesan kamar hotel online sekarang
Brosur
Download informasi hotel dan penginapan kami
Surat kabar
Dapatkan penawaran spesial kami
Kunjungan Wisata Kediri
Sesuai dengan moto SURYA HOTELS GROUP Kediri yaitu "today is A TRULY JOURNEY, introduce kediri to the world", maka setiap bulan kami mempunyai jadual kunjungan ke tempat - tempat wisata dan Industri di Area Kediri antara lain :
  1. Sigaret Kretek Tangan, PT Gudang Garam. Jadual Juli 2014 ( 11, 18 )
  2. Kopi Luwak. Jadual Juli 2014 ( 17, 19, 22, 26 )
  3. Tenun Ikat. Jadual Juli 2014 ( 4, 8, 12, 15 )
  4. Goa Maria Lourdes - Poh Sarang
  5. Produsen Batik Khas Kediri
  6. Gunung Kelud
Apabila Anda menginginkan pengaturan jadwal, maka dengan senang hati akan membantu.
Silahkan hubungi 0354 - 686 000 ext 0 untuk informasi lebih lanjut

Kopi Luwak


Kopi Civet atau Kopi Luwak adalah salah satu jenis kopi paling mahal dan produksinya sangat rendah di dunia. Kopi ini dihasilkan dari biji buah kopi yang telah dimakan oleh Luwak jeni s Palm Asia dan jenis musang yang masih termasuk ke dalam jenis luwak lainnya, dan kemudian masuk melalui proses area pencernaan. Seekor luwak memakan sebuah biji kopi untuk mendapatkan isi daging dari kopi tersebut. Di dalam perut, terdapat enzim proteolitik yang mengandung bio kimia dan asam amino bebas yang meresap ke dalam biji. Melalui saluran usus pembuangan kotoran, luwak tersebut mengeluarkan biji kopi yang telah dimakan dengan bentuk biji kopi yang masih utuh. Melalui proses persiapan pencucian secara menyeluruh, pengeringan dengan sinar matahari dan pemanggangan melalui proses pencahayaan , biji kopi ini menghasilkan aroma kopi yang khas dengan tingkat kepahitan yang sedikit. Kopi ini diketahui secara luas adalah sebagai biji kopi termahal di dunia dengan harga mencapai $ 160 per pound.

Kopi luwak diproduksi di beberapa kepulauan Indonesia pada umumnya di Pulau Jawa, Bali, Sumatera dan Sulawesi. Kopi ini juga di produksi di Philipina ( dimana produk kopi ini disebut sebagai Kopi Motit di daerah Cordillera, Kape Alamid di daerah Tagalog) dan juga di produksi di Timor – Timor ( dikenal sebagai Kopi Laku). Kopi luwak mempunyai rahasia menyenangkan yang ternyata membuat kopi ini menjadi kopi termahal di dunia. Ternyata sumber dari rahasia yang menyenangkan tersebut adalah terletak dari proses fermentasi di dalam perut luwak.

Kenikmatan kopi luwak juga dipengaruhi oleh berbagai proses fermentasi dan rangkaian pengolahan.

  1. Buah kopi yang dikonsumsi oleh luwak merupakan buah yang sudah matang optimal yang kemudian akan disortir lagi oleh luwak dengan indera penciumannya
  2. Proses pengupasan kulit hasil sistem pencernaan buah luwak adalah lebih baik daripada pengupasan kulit buah menggunakan pengolahan kering atau pengolahan basah oleh manusia.
  3. Kenikmatan kopi luwak juga dipengaruhi oleh berbagai proses fermentasi dan rangkaian pengolahan.
  4. Proses senyawa fermentasi yang terkandung dalam lendir kulit yang masuk ke dalam sistem pencernaan luwak menghasilkan biji kopi yang sempurna, pemanasan dan pendinginan secara bertahap dan perlahan - lahan dapat membantu proses fermentasi yang sempuran. Dengan pembuangan kotoran di dalam udara yang kering adalah suatu cara untuk mendapatkan kopi terbaik. Melihat proses dan faktor – faktor di atas menyebakan produksi kopi luwak sangat sulit diproduksi dalam skala besar. Dengan demikian harga kopi luwak pun menjadi sangat mahal, bahkan merupakan kopi paling mahal di dunia. Karena sangat “ special” kepopularitasnya telah menyebar ke seluruh dunia.
Manfaat Kopi Luwak
  1. Merelaksasikan pikiran dan tubuh yang tegang setelah seharian beraktivitas
  2. Mengurangi nyeri otot dan sendi karena olah raga atau melakukan pekerjaan yang berat
  3. Mengurangi risiko penyakit Alzheimer (penurunan daya ingat), pengembangan fungsi otak dan Parkinson
  4. Anti oksidan alami yang dapat membantu daya kekebalan tubuh terhadap penyakit.
  5. Merangsang untuk buang air kecil dan besar yang dapat membantu mengeluarkan racun dari tubuh dan keringat.
  6. Tidak menyebabkan sakit perut atau jantung berdebar
  7. Dapat meredakan sakit kepala / migrain
  8. Menambah vitalitas untuk pria dan watita, meningkatkan kualitas sperma dan sel telur
  9. Melindungi gigi agar tidak membusuk, mencegah kanker mulut dan bisul
  10. Menurunkan resiko kanker payudara, dengan meminumnya 4 cangkir sehari
  11. Mencegah diabetes, bila diminum 3 cangkir sehari
  12. Melindungi kulit dari risiko kanker kulit, bila diminum 2 cangkir sehari
  13. Baik untuk wanita hamil dan menyusui karena tidak mengandung kafein

kembali ke atas

Tenun Ikat


Sebagian besar mereka tidak mengetahui apalagi yang bisa dilihat pada saat mereka tinggal di Kediri? Kami menemukan sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi dan tempat tersebut dinamakam Kampung Bandar Kidul yang letaknya di sisi barat Sungai Brantas, di daerah Mojoroto, Kabupaten Kediri. Bandar Kidul adalah sebuah desa dimana mata pencaharian penduduknya membuat kain tenun atau sarung. Kerajinan tenun ikat ini telah ada lama di Bandar Kidul. Menurut penduduk setempat bahkan kerajinan tenun ikat ini telah ada sejak beberapa tahun lalu.

Berawal dari zaman penjajahan Jepang di Indoneisa. Ada dua hal yang ditinggalkan para penjajah pada jaman penjajahan. Yang pertama adalah penindasan yang sangat menderita bagi orang – orang Indonesia. Yang kedua adalah Jepang mengajarkan penduduk asli untuk bekerja seperti : pertanian, menenun, meskipun hasilnya dinikmati oleh Penjajah Jepang yang ada di Indonesia. Nenek moyang masyarakat Bandar Kidul Kediri dilatih membuat kain tenun. Pada akhirnya kegiatan ini diturunkan kepada anak cucu.

Pada awalnya pengembangan tenun di Bandar Kidul hanya memproduksi kain polos dengan satu warna saja, yang kemudian produksi lain yang juga lambat hanya dalam pembuatan kain sarung tangan. Kemudian pada tahun 80’ an Gudang Garam masuk dan berkolaborasi dengan Department Perdagangan di Kota Kediri untuk mengadakan studi kasus bagi para pengrajin tenun di Bandar Kidul ke Garut. Secara keseluruhan biaya disponsori oleh Gudang Garam.

Studi kasus ini memberikan dampak positif bagi para pengrajin, karena diajarkan banyak sekali menciptakan kerajinan lainnya yang tidak hanya kerajinan tenun polos saja. Teknik “wenter” penwarnaan sangat mendukung proses kreativitas bagi pengembangan kain tenun. Setelah kembali dari Garut banyak sekali produksi kain tenun yang dihasilkan lebih baik dan produksi kain tenun ikat produk Bandar lebih berkembang.

Sekitar tahun 2000 – an perkembangan tenun ikat Bandar tidak hanya memproduksi kain sarung saja akan tetapi mulai berkembang dengan memproduksi kain tenun untuk pakaian biasa dan pakaian modern. Sampai saat ini perkembangan tenun ikat Bandar Kidul sangat populer di kalangan sekitar warga Kediri. Sampai-sampai pemerintah daerah memerintahkan kewajiban menggunakan kain tenun ikat Bandar Kidul ini di instansi pemerintah kota Kediri. Bahkan, seluruh karyawan rumah sakit Gambiran juga menggunakan anyaman produk Bandar Kidul sebagai seragam mereka. Selanjutnya digunakan sebagai seragam sekolah anak – anak di Kota Kediri.

Selain Kota Kediri sering dikenal sebagai Kota Tahu karena produksi Tahu kuningnya dan Tahu pong yang dikenal sebagai Tahu Taqwa tetapi juga sebagai produser yang sangat menarik dan unik untuk kain tenun / "tenun ikat" – nya . Karena jenis kain tenun ikatnya dingin, tidak bau, dan warna motifnya unik maka produk ini bisa diunggulkan sebagai produk lainnya selain Tahu Taqwa.

Sekarang mungkin kain tenun bisa menjadi alternatif lain yang menarik sebagai souvenir lainnya di samping Tahu taqwa. Ikat sarung Bandar Kidul juga biasanya diperintahkan untuk digunakan oleh santri di pesantren pondok kota di Jawa Timur. Kualitas dan kualitas produksi sarung tenun ikat Bandar Kidul tidak kalah b ersaing dengan kain tenun buatan pabrik. Detail warna dan pola motif tidak bisa dikalahkan oleh produksi kain tenun lainnya. Sehingga kain sarung tenun Bandar Kidul ini sering dikenal sebagai Bandar Kidul ATMB (Tidak Tenun Mesin Bubut), yang berarti tidak ada penggunaan mesin produksi pada saat penenunan tetapi menggunakan mesin sederhana yang terbuat dari kayu. Disamping kain tenun ikat juga ada produk unggulan lainnya yaitu tenunan sarung tangan Bandar. Sarung tangan sering dikenal sebagai GOYOR tenun sarung. GOYOR selubung sangat istimewa, karena sarung tangan / sarung tangan tenun ikat ini akan membuat tubuh kita merasa hangat di malam hari / cuaca dingin dan sebaliknya dan akan membuat kita merasa dingin ketika kita menggunakannya dalam cuaca siang hari / panas.

Dalam pembuatan kain tenun terdiri dari beberapa proses yang cukup rumit dan harus memerlukan keterampilan tersendiri dalam menenun benang sampai menjadi kain tenun. Karena prosesnya tidak sederhana dengan tujuan untuk membuat nilai dari produk ini menjadi bagus kwalitasnya. Rata-rata proses awal pembuatan produk tenun ini memakan waktu sampai seminggu. Bagi pengusaha di Bandar Kidul yang telah cukup banyak memiliki mesin tenun sebanyak 10-15 mesin tradisional dapat memproduksi kain tenun lebih banyak. Sehingga pada saat ada pemesanan dalam jumlah besar masih bisa diatasi dan tidak tergantung kepada berapa lama produksi yang akan dikerjakan. Banyak permintaan yang sangat meningkat dari daerah lainnya terhadap kain tenun ikat Bandar Kidul ini dan menjadi suatu produk kebanggaan warga Kota Kediri serta menambah ciri khas Budaya Indonesia. Mudah – mudah kedepannya akan lebih dikenal lagi secara meluas baik oleh warga domestik mapun warga asing.

kembali ke atas

Goa Maria Lourdes - Poh Sarang


Gua Maria "Pohsarang", sering juga disebut "Puhsarang" atau yang dikenal juga dengan nama gua Maria Lourdes Pohsarang adalah merupakan salah satu tujuan para peziarah dari kalangan umat Katolik, yang terletak di kompleks gereja Pohsarang, yang terletak di Pohsarang yaitu sebuah desa yang berada wilayah Kecamatan Semen, sekitar 10 km arah barat daya kota Kediri.

Pada kompleks gereja yang lama terdapatlah miniatur gua Maria Lourdes yang dikemudian hari oleh karena terlalu kecil bentuknya maka pada tanggal 11 Oktober 1998, dimulailah pembangunan gua Lourdes yang merupakan tiruan atau replika Gua Maria Lourdes yang ada di Perancis. Dinamakan Gua Maria Lourdes sebab dalam Gereja yang lama terdapat tiruan gua Lourdes dalam bentuk yang kecil.

Di seputar patung yang kecil dalam gua pertama tertulis tulisan di atas kuningan dengan menggunakan bahasa Jawa ejaan lama: Iboe Maria ingkang pinoerba tanpa dosa asal, moegi mangestonana kawoela ingkang ngoengsi ing Panjenenengan Dalem. (Bunda Maria yang terkandung tanpa noda dosa asal, doakanlah aku yang datang berlindung kepadaMu)

Gua kecil yang berada di sebelah kanan Gereja ini merupakan sebuah gua yang banyak didatangi oleh bukan hanya umat Katolik untuk berdoa rosario atau novena, melainkan juga oleh umat lain yang bukan Katolik untuk melakukan meditasi dan memohon ujub kepada Tuhan yang Mahapemurah.

Sementara patung Maria yang terdapat di Gua Maria Lourdes Pohsarang (di luar kompleks Gereja lama) merupakan replika atau tiruan dari patung Maria Lourdes, yang terbuat dari semen kemudian dicat berwarna bagian luarnya. Patung itu lebih tinggi dari contoh aslinya yang hanya 1,75 meter dimana patung Maria yang sekarang ini tingginya 3,5 meter dan kalau dihitung dari alas kakinya patung ini tingginya dari bawah menjadi 4 meter. Patung ini dibuat lebih besar dari contohnya sebab disesuaikan dengan besarnya gua yang tingginya mencapai hampir 18 meter.

kembali ke atas

Produsen Batik Khas Kediri


Tekstil batik dari Niya (Cekungan Tarim), Tiongkok Detail ukiran kain yang dikenakan Prajnaparamita, arca yang berasal dari Jawa Timur abad ke-13. Ukiran pola lingkaran dipenuhi kembang dan sulur tanaman yang rumit ini mirip dengan pola batik tradisional Jawa.

Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T’ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.[2]. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Walaupun kata “batik” berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.

G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu. Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.

kembali ke atas

Gunung Kelud


Gunung Kelud (sering disalahtuliskan menjadi Kelut yang berarti "sapu" dalam bahasa Jawa; dalam bahasa Belanda disebut Klut, Cloot, Kloet, atau Kloete) adalah sebuah gunung berapi di Provinsi Jawa Timur, Indonesia, yang masih aktif. Gunung ini berada di perbatasan antara Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar, kira-kira 27 km sebelah timur pusat Kota Kediri.

Sejak abad ke-15, Gunung Kelut telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa. Sebuah sistem untuk mengalihkan aliran lahar telah dibuat secara ekstensif pada tahun 1926 dan masih berfungsi hingga kini setelah letusan pada tahun 1919 memakan korban hingga ribuan jiwa akibat banjir lahar dingin menyapu pemukiman penduduk.

Pada abad ke-20, Gunung Kelut tercatat meletus pada tahun 1901, 1919 (1 Mei), 1951, 1966, dan 1990. Tahun 2007 gunung ini kembali meningkat aktivitasnya. Pola ini membawa para ahli gunung api pada siklus 15 tahunan bagi letusan gunung ini.

Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September 2007 dan masih terus berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu air danau kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari kehijauan menjadi putih keruh. Status "awas" (tertinggi) dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135.000 jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi. Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelut kembali meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah dan kegempaan vulkanik dangkal. Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul 16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat pengukur suhu rusak. Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35mm) menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi letusan. Akibat aktivitas tinggi tersebut terjadi gejala unik yang baru terjadi dalam sejarah Kelut dengan munculnya asap putih dari tengah danau diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus "tumbuh" hingga berukuran selebar 100m.

Para ahli menganggap kubah lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi. Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa letusan tahun 1990. Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi semakin berkurang dan pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi "siaga" (tingkat 3). Pada lereng Gunung Kelud sejak tahun 2004 telah dibuka sarana jalan darat untuk mempermudah para wisatawan serta penduduk sekitar menuju pucak Gunung Kelud. Gunung Kelud juga telah menjadi obyek wisata Kabupaten Kediri.

kembali ke atas